Kurangi Kalori Dapat Memperpanjang Umur Jelas Sains

Kurangi Kalori Dapat Memperpanjang Umur Jelas Sains

Banyak penelitian terdahulu berhasil menemukan hubungan antara jumlah kalori sedikit dengan memperpanjang umur. Penelitian tersebut diuji pada beberapa hewan, seperti cacing, tikus, dan monyet.

Beberapa penelitian juga berhasil membuktikan orang yang mengurangi 15-18 persen jumlah kalorinya memiliki kadar kolesterol dan glukosa yang lebih sedikit.

Berangkat dari sini, Leanne Redman dari Pennington Biomedical Research Center, Lousiana, AS, bersama timnya ingin menyelidiki lebih lanjut tentang kalori dan hidup sehat.

Mereka pun memiliki alasan kuat yang dapat menjelaskan mengapa mengurangi jumlah kalori dapat memperpanjang umur.

Hal ini ternyata berhubungan dengan kondisi tubuh saat kita tidur.

Orang yang makan 15 persen lebih sedikit kalori akan memberikan efek besar pada apa yang terjadi di tubuh saat tidur.

Redman dan timnya melakukan uji coba penerapan diet rendah kalori dan makan sesuka hati kepada 53 orang dewasa secara acak.

Selama dua tahun, 34 orang diminta mengonsumsi makanan dengan jumlah kalori 15 persen lebih sedikit. Sementara sisanya dibebaskan untuk makan apa saja semaunya.

Dalam laporan yang dipublikasikan di jurnal Cell Metabolism, peneliti menemukan sesuatu yang menarik dari peserta yang melakukan diet rendah kalori.

Mereka yang makan lebih sedikit kalori mengalami penurunan dramatis dalam tingkat metabolisme di malam hari. Selain itu, juga terjadi penurunan kecil, tetapi signifikan terhadap suhu tubuh di malam hari.

"Metabolisme yang diukur selama tidur, berkurang 10 persen," ujar Redman dilansir New Scientist, Kamis (22/3/2018).

Saat para ahli menganalisis sampel darah peserta yang mengonsumsi lebih sedikit kalori, ahli menemukan mereka mengalami penurunan stres oksidatif sel sebanyak 20 persen.

Stres oksidatif adalah kerusakan sel yang disebaban produk sampingan dari metabolisme. Keadaan ini dianggap sebagai pemicu utama penuaan.

Redman berpendapat, diet rendah kalori dapat mendorong tubuh untuk memiliki tingkat metabolisme istirahat yang lebih rendah.

Cara ini merupakan mekanisme evolusioner untuk menghemat energi ketika makanan langka atau sulit didapat. Hal yang sama seperti dilakukan para hewan yang berhibernasi.

"Studi ini adalah pertama yang menunjukkan bahwa tubuh manusia akan menanggapi pengurangan kalori dengan penurunan tingkat metabolisme saat tidur," imbuh Luigi Fontana dari Universitas Washington, Missuri.

Perlu dicatat, mengurangi jumlah kalori dengan membatasi makanan tidak mudah untuk sebagian orang. Diperlukan adanya perencanaan sejak awal dengan sangat hati-hati karena efek sampingnya bisa kehilangan libido dan merasa kedinginan.

Kisah Astronot Takut Ketinggian yang Tinggal 402 Kilometer di atas Bumi

Kisah Astronot Takut Ketinggian yang Tinggal 402 Kilometer di atas Bumi

Apa jadinya jika Anda fobia atau takut terhadap sesuatu tapi harus bekerja dengan hal tersebut? Mungkin sebagian orang tak akan mau melakukannya.

Namun, hal berbeda justru dialami oleh seorang astronot dari Amerika Serikat, Andrew J. Feustel. Hal ini disampaikan oleh Badan Antariksa AS (NASA).

NASA baru-baru ini merilis sebuah video tentag lima fakta astronot yang mungkin tak disadari banyak orang. Dalam video tersebut, Feutsel menyebut bahwa ia memiliki ketakutan terhadap ketinggian.

"Saya benar-benar memiliki sedikit ketakutan terhadap ketinggian tapi tampaknya itu tidak mempengaruhi saya berada di 402 kilometer di atas planet dalam pakaian luar angkasa," ungkap Feutsel dikutip dari Newsweek, Kamis (22/03/2018).

"Tapi (ketakutan) itu ada di sana," imbuhnya.

Pengakuan ini menjadi bukti bahwa ketakutan tersebut tidak menghambat karir Feutsel. Bahkan, ia secara total menghabiskan 29 hari di luar angkasa.

Feutsel juga sempat menyelesaikan 42 jam spacewalk (kegiatan di luar stasiun atau kapal antariksa, di luar atmosfer bumi) selama dua misi.

Sedangkan pada misi ketiga dan saat ini, kita akan melihat Feutsel tinggal di Stasiun Luar Angkasa Internasional ( ISS) selama 6 bulan. Feutsel juga akan mengambil alih jabatan komandan ISS pada akhir Juni tahun ini.

Feutsel dan 2 rekannya, masing-masing dari AS dan Rusia, meluncur ke ISS pada Rabu (21/03/2018) lalu. Mereka melakukan perjalanan 50 jam tersebut dengan pesawat luar angkasa Soyuz MS-08 dari Kosmodrom Baikonur di Kazakhstan.

Dalam video yang diunggah NASA tersebut, Feutsel menambahkan bahwa menjadi astronot adalah salah satu impiannya, di luar menjadi pembalap Formula Satu. Selain itu, ia juga mengungkapkan keahliannya pada olahraga ski air tapi dengan bertelanjang kaki.

"Saya belajar sendiri untuk bermain ski air bertelanjang kaki pada usia 14 tahun, dan saya bisa memberitahu Anda bahwa banyak air danau yang telah saya telah sebagai hasil dari keterampilan tersebut," canda Feutsel.