Remaja Bertingkah Bukan Karena Pubertas Jelas Sains

Remaja Bertingkah Bukan Karena Pubertas Jelas Sains

Masa peralihan dari anak ke remaja seringkali ditandai dengan perubahan perilaku. Masyarakat kerap menyangka bahwa itu adalah hasil pengaruh hormon reproduksi.

Ternyata, hal ini berhasil disangkal lewat penelitian terbaru oleh Asisten Profesor di Departemen Psikologi Universitas Buffalo, Matthew Paul, yang diterbitkan dalam jurnal Current Biology.

Dalam penelitian itu, Paul menggandeng Clemens Probst dari Rumah Sakit Umum Massachusetts, Geert de Vries yang seorang profesor di Universitas Georgia State, dan Lauren Brown yang seorang mahasiswa pascasarjana di Universitas Buffalo.

“Perubahan perilaku sosial selama masa remaja sepertinya tidak dipengaruhi hormon pubertas. Itu semua tidak dipicu oleh pubertas, jadi jangan salahkan hormon,” ujar Paul dilansir dari Science Daily, Kamis (22/3/2018).

Tim peneliti menyimpulkan hal itu setelah mengadakan percobaan terhadap hamster Siberia. Mereka sengaja memilih hamster karena pubertas dan masa remaja pada manusia terjadi berbarengan, sedangkan pada hamster Siberia tidak.

Untuk diketahui, hamster Siberia dibedakan dalam dua golongan.

Pertama, jenis yang lahir pada permulaan musim kawin. Jenis ini mengalami pubertas dini dan bisa bereproduksi pada tahun itu juga. 

Sementara itu, jenis kedua adalah yang lahir di penghujung musim kawin. Pubertas yang dialami jenis hamster ini harus tertahan sementara sehingga tidak bisa melahirkan pada pertengahan musim dingin.

Para peneliti lantas membatasi jumlah cahaya yang terpapar ke hamster tersebut. Tujuannya agar periode pubertas hamster bisa dikendalikan. Hasilnya, pubertas hamster jenis pertama datang pada umur 30 hari, sedangkan pubertas hamster jenis kedua saat berusia sekitar 100 hari.

Dua jenis hamster tersebut kemudian diamati perilakunya. Hal ini untuk mengetahui apakah memang betul perilaku yang berubah tergantung pada pubertas. Peneliti menandai tahapan perubahan dari bermain ke dominasi sosial yang biasanya menjadi ciri remaja, termasuk pada hamster.

“Bermain adalah perilaku penting dalam banyak spesies, terutama mamalia," kata Paul.

Rupanya, perubahan perilaku pada dua kelompok hamster tersebut pada waktu bersamaan, tidak dipengaruhi masa pubertas. Pada hamster jenis kedua, fase pergantian perilakunya telah berlangsung sebelum pubertas dimulai. Perubahan perilaku tidak harus berbarengan dengan masa pubertas.

Apabila hormon reproduksi berperan dalam peralihan dari fase bermain ke dominasi sosial, seharusnya hamster jenis pertama mengalami transisi lebih awal, sedangkan hamster jenis kedua akan memasuki fase perubahan perilaku terlambat. Penelitian ini jelas menyangkal anggapan bahwa pubertas memengaruhi perubahan perilaku.

Penelitian ini sendiri dilatari oleh rasa keprihatinan melihat banyak remaja terjerumus memakai narkoba saat awal pencarian jati diri. Pada fase tersebut, remaja memilih bergaul dengan teman sebayanya daripada berinteraksi secara terbuka dengan keluarga. “Masa remaja adalah tahap perkembangan yang penting bagi individu,” kata Paul.

Temuan Paul dan rekan-rekannya ini diharapkan mampu membantu memahami perkembangan kesehatan remaja.

Pubertas dan remaja adalah dua hal yang secara biologis berbeda. Pubertas dimaknai sebagai tahapan seseorang memasuki masa bereproduksi yang ditandai dengan kemunculan tanda seksual sekunder dan penambahan hormon gonad. Sedangkan masa remaja tidak hanya melulu tentang pubertas, tetapi ada aspek perubahan kognitif, sosial, dan emosional.

Ini Dia Temuan Kerangka yang Di Kira Alien

Ini Dia Temuan Kerangka yang Di Kira Alien

Pencarian alien hingga saat ini terus dilakukan para ilmuwan. Maka, penemuan benda-benda misterius selalu menjadi sorotan.

Salah satunya adalah kerangka yang ditemukan di Gurun Atacama, Cile, yang dinamai "Ata". Kerangka yang ditemukan pada 2003 silam itu memiliki bentuk dan ukuran yang tak biasa.

Banyak orang mengira bahwa kerangka tersebut milik alien. Tapi, setelah melalui penelitian selama 5 tahun, para ahli menemukan susunan genetika kerangka tersebut.

Dipimpin oleh para peneliti dari University of California, San Francisco, dan Stanford UNiversity, terungkap bahwa kerangka tersebut milik manusia.

Meski begitu, para ahli forensik menyebut ada mutasi genetik yang parah dan sebelumnya tidak diketahui.

Sejak ditemukan, kerangka yang diperkirakan berasal dari tahun 1970-an ini langsung menjadi perbincangan di internet. Bahkan, direktur the Center for the Study of Extraterrestrial Intelligence and the Disclosure Project, Steve Greer sempat membuat film dokumenter berjudul Sirius tentang kerangka misterius itu.

Kerangka tersebut memiliki panjang 15 sentimeter dengan kerangka tengkorak memanjang. Tak hanya itu, rongga mata kerangka ini juga miring dan hanya memiliki 10 tulang rusuk saja.

Meski begitu, perkembangan tulang pada kerangka ini cocok dengan anak perempuan berusia 6 tahun.

Saking anehnya kerangka itu, Ata bahkan sempat diperjualbelikan ke pasar gelap hingga akhirnya jatuh ke tangan seorang pengusaha Spanyol.

Bukan Alien

Dr Garry Nolan, seorang ahli mikrobiologi di Stanford University yang mendengar kerangka ini, kemudian tertarik mempelajari asal usulnya.

"Anda tidak bisa melihat spesimen ini dan tidak berpikir bahwa itu menarik, ini cukup dramatis," ungkap Dr Nolan dikutip dari The Independent, Kamis (22/03/2018).

"Jadi aku berkata, 'lihat apa pun itu, jika ada DNA saya bisa melakukan analisis'," imbuhnya.

Maka, Nolan segera menghubungi pembuat Sirius. Dari sanalah ia berkesempatan untuk melakukan analisis.

Setelah memeriksa kerangka tersebut, para peneliti menyimpulkan bahwa itu milik janin perempuan. Selain itu, yang menjadikannya unik adalah janin tersebut merupakan "campuran" nenek moyang asli Amerika dan Eropa.

Meski begitu, para peneliti tak bisa menjelaskan alasan penampilan Ata yang aneh.

Faktor Genetik

Namun, para peneliti tak mau berhenti sampai di situ. Mereka melakukan analisis lebih lanjut setelah bergabungnya Dr Atul Butte.

Dr Butte membantu para peneliti memahami faktor genetik yang menyebabkan penampilan spesimen tersebut.

Menggunakan berbagai teknik mutakhir, para peneliti juga menemukan mutasi langka terkait dengan dwarfisme (kekurangan pertumbuhan yang menyebabkan seseorang tidak tumbuh dengan normal atau cebol) serta berbagai gangguan tulang yang lain.

Analisis yang dipublikasikan dalam jurnal Genome Research tersebut menunjukkan, setidaknya ada empat mutasi genetik yang diduga terlibat dengan penyakit tulang yang dialami oleh Ata. Sayangnya, semua sebelumnya tidak diketahui oleh sains.

Mutasi inilah yang diperkirakan menjadi penyebab penampilan Ata yang tidak biasa. Mutasi juga disebut sebagai alasan penuaan dini tulang-tulangnya, yang membuatnya tampak jauh lebih tua dari sebenarnya.

"Ketika dokter melakukan analisis untuk pasien dan keluarga mereka, kita sering mencari satu penyebab, mutasi super langka atau tidak biasa yang bisa menjelaskan penyakit anak. Tapi dalam kasus ini, kita cukup yakin bahwa banyak hal yang salah," kata Dr Butte.