Karena Tempat yang Tidak Memungkinkan di Datangi Pencarian Alien di Batalkan

Karena Tempat yang Tidak Memungkinkan di Datangi Pencarian Alien di Batalkan

Selama ini, pencarian makhluk hidup di planet asing sering kali dimulai dengan pencarian air.

Dalam jurnal Nature Astronomy, planet ektrasurya yang mengelilingi bintang Trappist-1 ditemukan memiliki air setelah para peneliti mengamatinya dari jarak 39 tahun cahaya.

Berdasarkan ukuran dan kepadatannya, planet-planet ini memiliki ukuran seperti bumi tetapi jauh lebih ringan. Perbedaan massa tersebut hanya bisa disebabkan oleh air yang lebih berat dari gas, tetapi lebih ringan dan tidak sepadat batu.

Sayangnya, air yang ada di planet sekitar Trappist-1 berada pada jumlah yang terlewat banyak untuk menyokong kehidupan.

Bumi sendiri mungkin terlihat seperti planet yang basah karena 71 persen permukaannya ditutupi oleh air dan 60 persen tubuh kita adalah air. Namun, ternyata air hanya 0,02 persen dari seluruh massa bumi, sementara sisanya adalah batu, bahan-bahan organik, dan lain-lain.

Sebaliknya, kandungan air beberapa planet di sekitar Trappist-1 berkisar antara lima sampai 10-15 persen massanya atau 250 kali lipat air di bumi.

Dengan jumlah air sebanyak itu, planet-planet ini akan memiliki penampakan yang jauh berbeda dari bumi atau bulan berair seperti Enceladus dan Europa.

Para peneliti menjelaskan bahwa air di Trappist-1 kemungkinan berupa lapisan tipis di atas, sementara bagian bawahnya padat seperti es karena tekanan lautan yang ada di atasnya. Es ini berfungsi sebagai mantel yang melindungi pusatnya yang lebih padat.

Lalu tanpa adanya tanah kering, kemungkinan cuaca di planet-planet ini untuk menghasilkan bahan-bahan penting, seperti fosforus yang merupakan bahan utama DNA, sangatlah terbatas.

Artinya, kemungkinan makhluk hidup di planet-planet ini, kalau ada, untuk berkembang cukup besar hingga keberadaannya dapat dideteksi dari bumi sangatlah kecil.

“Dalam kasus seperti ini, Anda tidak akan bisa membedakan oksigen yang dihasilkan oleh kehidupan dengan oksigen yang diproduksi oleh proses geologi planet,” kata Cayman Unterborn, seorang ilmuwan geosains dan penulis utama studi, seperti dilansir oleh Popular Science, Kamis (22/3/2018).

Akan tetapi, temuan ini bukan berarti akhir bagi penelitian terhadap planet-planet di sekitar Trappist-1. Fokus dari makalah ini justru bukan tentang pencarian kehidupan, melainkan bagaimana planet-planet ini bisa terbentuk.

Keberadaan mereka yang dekat dengan bintang, tetapi tetap memiliki es sangat menarik untuk dipelajari. Pasalnya di sistem tata surya kita, planet yang dekat dengan bintang biasanya kering, sedangkan yang jauh basah hingga memiliki es.

Ada kemungkinan planet-planet Trappist-1 telah bergeser dari lokasi aslinya, yang kemudian bisa berarti bahwa mereka dibentuk pada masa awal terbentuknya Trappist 1 (sekitar 8 miliar tahun yang lalu) sehingga bergeser cukup jauh atau dibentuk belakangan dan hanya bergeser sedikit.

Kemungkinan baru bisa dipastikan jika ada penelitian lebih lanjut.

BolaDisko Raksasa yang Diluncurkan Akan Kembali Ke Bumi

BolaDisko Raksasa yang Diluncurkan Akan Kembali Ke Bumi

Masih ingat dengan satelit berbentuk bola disko yang diluncurkan pada akhir Januari 2018 lalu?

Satelit tersebut bernama The Humanity Star, sebuah satelit reflektif yang diluncurkan oleh Rocket Lab ini akan kembali ke bumi. Hal ini disampaikan oleh Peter Beck, pendiri Rocket Lab.

"Dalam beberapa hari mendatang, Humanity star akan memulai pendaratan terakhirnya ke atmosfer bumi di mana ia akan terbakar saat masuk kembali (ke bumi), tanpa meninggalkan jejak," ungkap Beck dikutip dari CNN, Rabu (21/03/2018).

Satelit yang menyerupai bola disko raksasa tersebut diluncurkan tanpa misi atau fungsi khusus. Menurut Beck, satelit tersebut diluncurkan untuk mendorong orang berpikir sedikit berbeda tentang kehidupan mereka dan tindakan yang penting bagi kemanusiaan.

Humanity Star memang satelit yang diluncurkan hanya sebagai tontonan. Inilah yang sempat membuat beberapa astronom geram.

Namun, satelit yang terbuat dari serat karbon dan memiliki panel reflektif tersebut memantulkan sinar matahari kembali ke bumi.

Saat melintasi langit malam, benda ini berputar cepat dan menciptakan cahaya berkedip. Mirip dengan bola disko, bukan?

Sayangnya, keberadaan satelit ini di luar angkasa cukup singkat. Menurut pelacak Humanity Star, obyek tersebut kehilangan ketinggiannya.

Berdasarkan tingkat penurunan tersebut, benda ini akan masuk kembali ke atmosfer bumi hari ini, Kamis (22/03/2018). Perkiraan ini disampaikan oleh Richard Easther, astronom di Auckland University.

Easther menyebut kembalinya satelit tersebut kemungkinan karena pemodelan yang salah.

"Saya menduga bahwa ramalan ini didasrkan pada satelit berukuran biasa, dan obyek yang pasa dasarnya adalah balon akan merasakan lebih banyak hambatan daripada satelit boasa yang dikirim, menyerupai sebongkah logam," ujar Easther.

Meski akan segera kembali ke bumi, Beck optimis tujuannya meluncurkan Humanity Star bisa terpenuhi. Ia memaksudkan peluncuran tersebut sebagai latihan untuk mendorong orang untuk berpikir lebih dalam tentang tempat mereka di kosmos.

"Harapan saya adalah mendorong orang-orang untuk berlama-lama melihat bintang dan merenungkan tempat kita di alam semesta ini," kata Beck.

"Sementara Humanity Star adalah momen singkat dalam sejarah manusia, saya berharap perbincangan dan ide-ide yang dicetuskan di seluruh dunia akan terus dieksplorasi," sambungnya.

Menanggapi keberhasilan Beck meluncurkan satelit unik ini, Easther menyebut bahwa ini merupakan sebuah kesuksesan. Apalagi mengingat Rocket Lab adalah sebuah perusahaan di Selandia Baru dengan kekuatan kecil non-militer.

Walaupun nantinya, satelit ini tidak mencapai tujuan peluncurannya, tapi Easther menjelaskan bahwa ini merupakan lompatan teknologi yang penting.

"Sebagai warga Selandia Baru, saya bangga... (untuk melihat) perangkat buatan negara saya diluncurkan pada orbitnya," tutup Easther.