Plastik Termasuk Penemuan yang Mengubah Dunia Namun Berbahaya

Plastik Termasuk Penemuan yang Mengubah Dunia Namun Berbahaya

Apa yang terlintas dalam benak Anda saat menyebut kata plastik? Mungkin Anda membayangkan kantong belanja, pembungkus makanan, hingga mainan.

Ya, plastik memang menjadi benda yang serba guna. Hampir semua benda saat ini menggunakan bahan ini.

Tak hanya berguna, plastik juga menyimpan sisi gelapnya. Buktinya, saat ini, plastik menjadi salah satu sampah yang cukup mengkhawatirkan.

Alasannya adalah plastik tidak mudah terurai dan menimbulkan pencemaran lingkungan serta berbagai masalah kesehatan.

Bahkan, baru-baru ini heboh tentang mikroplastik dalam air kemasan yang mungkin menimbulkan berbagai masalah kesehatan ke depannya juga meresahkan masyarakat.

Namun, di luar kontroversi benda serba guna ini, tahukah Anda bagaimana sejarah plastik berkembang?

Sebelum menjawab tersebut, ada baiknya kita mengerti bahwa smeua hal di dunia ini terbuat dari kelas yang sama: polimer.

Polimer merupakan molekul berulang yang sangat panjang. Dalam kasus plastik, polimernya terutama terbuat dari karbon.

Kata plastik sendiri berasal dari bahasa Yunani "plastikos" yang berarti lentur dan mudah dibentuk.

Merujuk pada hal tersebut, maka sejarah plastik boleh jadi dimulai oleh bangsa Olmec di Meksiko sekitar 150 tahun sebelum masehi. Saat itu, mereka bermain menggunakan bola yang terbuat dari polimer lain, yaitu karet.

Seperti kita ketahui, selain juga berada dalam kelas polimer, karet juga lentur dan mudah dibentuk.

Plastik Sintetis Pertama

Selain itu, bangsa Olmec juga menggunakan kayu pada masa tersebut. Sekitar setengah dari potongan rata-rata kayu memiliki selulosa, polimer yang ada pada dinding sel tanaman keras yang membuat sesuatu kaku.

Selulosa ini kemudian menjadi salah satu bahan baku untuk terobosan besar dalam plastik.

Adalah Alexander Parkes yang membuat bahan baku plastik modern dari selulosa tersebut. Ia menamainya parkesine.

Produk awal parkesin seperti gagang pisau, sisir, kancing, dan lain sebagainya. Parkes memamerkan produk-produk tersebut di London's Science Museum pada 1862.

Perkembangan Plastik

Temuannya ini kemudian dijual pada dua orang Amerika, Hyatt bersaudara. Untuk meningkatkan kelenturan parkesin, mereka kemudian menambahkan kamper dan menamainya seluloid pada 1870.

Namun, terobosan besar pada perkembangan plasti sebenarnya terjadi pada 1907.

Tahun tersebut menjadi kelahiran era plastik modern dengan penemuan Bakelite oleh Leo Baekeland. Bakelite merupakan plastik sintetis pertama di dunia.

Dengan kata lain, bakelite tidak berasal dari tumbuhan atau hewan, melainkan dari bahan bakar fosil.

Sayangnya, Bakelite bukanlah isolator yang baik seperti seluloid. Karenanya, berbagai penelitian lanjutan terus dikembangkan untuk mencari plastik baru.

Selanjutnya, Baekland menggunakan fenol, asam yang berasal dari tar batubara.

Dia kemudian membuat polystyrene pada 1929, poliester pada 1930, polyvinylchloride (PVC) dan polythene pada 1933, dan nilon pada 1935.

Kejayaan Plastik

Tahun-tahun selanjutnya, saat Perang Dunia II berkecamuk, industri plastik sintetis berjaya. Hal ini karena adanya tuntutan untuk melestarikan sumber daya alam yang langka.

Dari hal tersebut, produksi alternatif sintetis menjadi prioritas. Misalnya saja, sutra mulai digantikan nilon untuk bahan parasut, tali, pelindung tubuh, dan lain sebagainya.

Sepanjang periode perang, penelitian tentang plastik juga terus dilakukan. Ini terbukti pada 1941, polyethylene terephthalate (PET) ditemukan.

PET sendiri merupakan bahan untuk membuat botol minuman bersoda karena cukup kuat menahan dua tekanan atmosfer. Hal ini juga membuktikan betapa serba gunanya bahan-bahan baru yang murah tersebut.

Selanjutnya, plastik juga berkembang menjadi sarung tangan musim dingin, pembungkus bunga, dan lain sebagainya.

Uniknya, untuk benda yang bertujuan berbeda, para ahli dengan mudah mengutak-atik rangkaia struktruk polimernya.

Contohnya, botol susu di Inggris yang standar menggunakan polyethylene atau C2H4. Dengan menambah satu karbon saja, polimer tersebut menjadi polypropylene yaitu bahan plasti yang lebih kuat.

Isu Lingkungan

Pada masa-masa tersebut, optimisme terhadap plastik cenderung berlebihan. Tapi hal ini tak bertahan lama.

Sesudah perang, terjadi pergeseran persepsi tentang plastik. Ia tak lagi dipandang positif, terutama setelah puing-puing plastik di lautan pertama kali teramati pada 1960-an.

Apalagi 1962, Rachel Carson dalam bukunya Silent Spring mengungkapkan bahaya pestisida. Ditambah pada 1969, tumpahan minyak di lepas pantai California juga mulai mendapat perhatian.

Kedua kasus tersebut meningkatkan kekhawatiran tentang polusi. Kesadaran tentang isu lingkungan pun menyebar dan membuat plastik dipandang negatif.

Sejak 1970-an hingga kini, plastik menjadi limbah yang diwaspadai. Sayangnya, pengelolaan limbah plastik belum sepenuhnya tertangani dengan baik.

Isu Kesehatan

Reputasi plastik juga kian menurun setelah ia disebut menjadi ancaman potensial terhadap kesehatan manusia. Hal ini karena adanya bisphenol A (BPA), bahan kimia yang dimasukan pada plastik untuk membuatnya fleksibel, tahan lama, dan transparan.

BPA pada plastik yang digunakan untuk mewadahi makanan atau air minum dalam dosis yang tinggi bisa mengganggu sistem endokrin (hormonal).

Untuk menyelesaikan masalah BPA, para peneliti kemudian membuat plastik yang bebas BPA untuk wadah makan dan minum.

Namun, ini bukan berarti masalah dari plastik berhenti. Seperti yang disebutkan sebelumnya, baru-baru ini masalah mikroplastik juga menjadi sorotan.

Meski belum ada penelitian yang jelas mengenai efek mikroplastik dalam tubuh, tapi para ilmuwan memperingatkan bahayanya.

Koloni Lebah Ternyata Mirip Respon Otak Manusia

Koloni Lebah Ternyata Mirip Respon Otak Manusia

Tak disangka koloni lebah dan otak manusia punya kesamaan.Hal ini diketahui setelah para peneliti Universitas She ffield, Inggris, meneliti koloni lebah secara keseluruhan.

Ahli menemukan bahwa perilaku koloni lebah sangat mirip dengan cara otak merespon rangsangan eksternal.

Studi yang diterbitkan di jurnal Scientific Reports, Senin (12/3/2018), akan membantu menjelaskan beberapa mekanisme dasar perilaku manusia.

Salah satu penulis utama penelitian, Andreagiovanni Reina, menjelaskan obyek penelitian timnya adalah lebah. Bukan organisme tunggal lebah, melainkan koloninya.

Pengamatan yang dilakukan menunjukkan koloni lebah merupakan suatu superorganisme tunggl. Maksudnya, koloni lebah adalah sekelompok serangga sosial yang unik dan kompleks.

"Saat serangga sendiri, ia disebut organisme. Namun, saat sekelompok organisme bekerja sama untuk bertahan hidup, mencari makan, dan bereproduksi, kelompok itu dianggap sebagai kesatuan. Atau dengan kata lain, mereka adalah superorganisme tunggal," kata Reina dilansir Newsweek, Rabu (28/3/2018).

Para peneliti juga mengamati perilaku koloni lebah dalam mencari lokasi untuk membuat sarang baru. Dalam laporan, peneliti menulis lebah saling berkomunikasi dalam koloni untuk menentukan lokasi strategis. Hal ini sama seperti cara neuron atau sel-sel saraf otak saling berinteraksi saat menentukan sebuah pilihan.

Menurut peneliti, perilaku ini sesuai dengan beberapa teori dalam ilmu psikologi, khususnya teori psikofisik.

"Psikofisik mempelajari hubungan antara intensitas stimulus dan persepsinya di otak manusia. Psikofisik memegang spektrum luas domain sensorik, seperti kenyaringan suara, nada musik, kecerahan gambar, durasi waktu, berat badan, dan lainnya," kata Reina.

Sejauh ini, hukum ini dianggap hanya berlaku untuk organisme tunggal saja. Belum ada penelitian yang berhasil membuktikan bahwa koloni juga dapat melakukan hal yang sama.

Dalam teori psikofisik, ada beberapa hukum psikologi di dalamnya. Hasil penelitian membuktikan hukum tersebut tidak hanya terjadi dalam otak manusia, tetapi juga di koloni lebah.

Ada tiga Hukum Psikofisik yang dikaji oleh Reina dan timnya, yakni Hukum Weber, Hukum Piéron, dan Hukum Hick.

Hukum Psikofisik

1. Hukum Weber

Hukum Weber membahas bagaimana otak mampu menentukan pilihan terbaik dari sekian opsi yang tersedia, termasuk menimbang pilihan yang lebih berkualitas meski bedanya tipis.

Hukum ini banyak ditemui pada manusia, mamalia, ikan, burung, dan serangga. "Selain itu, organisme tanpa otak seperti jamur lendir dan organisme uniseluler juga dapat menerapkan perilaku ini," terangnya.

Menurut peneliti, belum pernah ada yang berhasil membuktikan adanya praktik Hukum Weber terhadap koloni. Akhirnya studi Reina dan timnya berhasil membuktikannya lewat koloni lebah yang mencari sarang.

2. Hukum Piéron

Hukum Piéron menunjukkan otak dapat membuat keputusan lebih cepat ketika ada dua opsi berkualitas tinggi, sementara cenderung memakan waktu lebih lama saat pilihannya berkualitas rendah.

Dalam koloni lebah, tim menemukan koloni lebah dapat menentukan dengan cepat saat menemukan dua sarang berkualitas tinggi dibanding dua sarang berkualitas rendah.

3. Hukum Hick

Hukum Hick menyatakan bahwa otak lebih lambat dalam mengambil keputusan saat jumlah opsi meningkat.

Dalam koloni lebah, tim mengamati bahwa koloni memerlukan waktu lebih lama untuk memilih lokasi sarang ketika jumlah pilihan lokasi meningkat.